SELAMAT DATANG

Rabu, 02 Mei 2012

pengolahan atau persiapan tambak atau kolam

Persiapan Tambak
Pengeringan Dasar Tambak
Semua tingkat teknologi budidaya tambak menghendaki pengeringan tanah dasar yang sempurna, yang dapat dilakukan pada periode musim kemarau. Pengeringan ini dimaksudkan untuk mengurangi senyawa – senyawa asam sulfide dan senyawa beracun yang terjadi selama tambak terendam air, memungkinkan terjadinya pertukaran udara dalam tambak sehingga proses mineralisasi bahan organic yang diperlukan untuk pertumbuhan kelekap dapat berlangsung, serta unutk membasmi hama penyakit dan benih- benih ikan liar yang bersifat predator ataupun kompetitor.
Agar lebih mempermudah pelaksanaan pengeringan tambak dapat dilakukan pada saat air laut surut. Pengeringan tambak berlangsung selama 1-2 minggu, sampai keadaan tanah retak- retak, namun tidak terlalu kering atau berdebu.(gambar 1). Tambak yang terlalu kering kurang baik untuk pertumbuhan klekap. Jadi yang dimaksud dengan tidak terlalu kering adalah bila tanah dasar tambak diinjak, kaki masih melesak sedalam 10-20 cm. sebaliknya bila pengeringan tambak kurrang sempurna, kelekap yang tumbuh didasar tambak kurang kuat melekat dan mudah lepas dari substratnya. Hal ini akan menyebabkan kelekap mengapung kepermukaan air tambak dan membusuk, keadaan ini mencemari tambak. Untuk mengetahui tingkat pengeringan tersebut yaitu dengan cara mengukur ketinggian lekukan yang terjadi dalam tanah dasar yang retak- retak tersebut, apabila lapisan telah mencapai 1-2 cm, maka pengeringan sudah dianggap cukup.

Kedok teplok
Pengangkatan Lumpur dasar sebaiknya dilakukan pada saat Lumpur dasar dapat diangkat (gambar 2). Kebanyakan petambak melakukan kedok teplok pada saat tergenang sehingga partikel- partikel Lumpur yang halus bercampur dengan air, sehingga kadar NH3 –N dan H2S tetap tinggi.
Pengolahan tanah dasar tambak
Pengolahan tanah dasar dilakukan menggunakan hand tractor atau dicangkul, dengan kedalaman tidak lebih dari 30 cm. hal ini dilakukan sehubungan dengan pengaruh unsur hara terhadap pertumbuhan plankton pada kedalaman tertentu, dan kemampuan unsur toksis berpengaruh terhadap kehidupan udang didasar tambak. Pengolahan tanah dasar dilakukn hanya pada tambak masam dan tambak yang sudah lama beroperasi, dan dilakukan pada musim tertentu, dimana unsur- unsur toksis dalam bongkahan tanah dapat teroksidasi dengan sempurna (musim kemarau). Setelah tanah dasar tambak ditraktor, kemudian dibalik dan Lumpur yang ada didalam caren harus diangkat sambil memperbaiki pematang. Selanjutnya direndam air (10 – 20) selama ± 7 hari, lalu dikeringkan kembali.
2. Pengapuran
Pengapuran adalah upaya peningkatan produktivitas tambak, utamanya tambak masam yang bertujuan :
Pengeringan tanah 





Gambar 1. Kegiatan Pengeringan Tanah Dasar Tambak
Gambar Kegiatan Kedok Teplok 





Gambar 2. Kegiatan Kedok Teplok
Gambar Kegiatan Aklimatisasi Suhu 





Gambar 3. Salah Satu Kegiatan Aklimatisasi Suhu
Gambar 4 




Gambar 4. salah satu kegiatan pemberian pakan tambahan dengan menggunakan anco sebagai wadah pakan dan pengamatan pertumbuhan.
Gambar Kegiatan Pengolahan Kualitas Air Tambak 





Gambar 5. Salah Satu Kegiatan Pengolahan Kualitas Air Tambak
Gambar Kegiatan Panen Selektif dengan Menggunakan Jala Lempar 





Gambar 6. Salah Satu Bentuk Kegiatan Panen Selektif dengan Menggunakan Jala Lempar.
Gambar Bentuk Kegiatan Panen Total 





Gambar 7. Salah Satu Bentuk Kegiatan Panen Total
Gambar Kegiatan Sortir Udang Hasil Tambak 






Gambar 8. Salah Satu Kegiatan Sortir Udang Hasil Tambak Berdasarkan Ukuran Udang (size)
Memperbaiki struktur tanah yaitu meningkatkan daya sanggah (buffer) tanah dan air sehingga tidak terjadi perubahan kemasaman (pH) yang ekstrim.
  • Menetralisasi unsur toksis yang disebabkan oleh aluminium dan zat besi dengan ketersediaan kalsium dalam jumlah yang cukup, sehingga ketersediaan unsur hara seperti posfat akan bertambah.
  • Menstimulir aktivitas organisme tanah sehingga dapat menghambat organisme yang membahayakan kehidupan udang (desinfectan)
  • Dapat merangsang kegiatan jasad renik dalam tanah sehingga dapat meningkatkan penguraian bahan organic dan nitrogen dalam tanah.
Pada tanah masam dengan pH<5, pengapuran dilakukan sesudah diadakan reklamasi sehingga pH tanah tidak terjadi perubahan yang drastis. Sedangkan pada tanah dasar tambak yang pH>7 tidak dilakukan pengapuran atau pengapuran dalam jumlah yang sedikit sebgai desinfectan saja (poernomo 1992). Pengapuran dilakukan pada saat tanah dasar tambak dalam keadaan lembab dan juga dilakukan pada saat pengolahan atau pembalikan tanah dasar tambak. Setelah tanah dasar tambak dikapur dengan kaptan selanjutnya dibiarkan kering dan terjemur.
3. Pemberantasan Hama
Pemberantasan hama (terutama trisipan, kepiting dan udang / ikan liar) yang paling efektif adalah melalui pengeringan tambak secara sempurna. Sedangkan pengapuran dengan menggunakan kapur hidrat dan kapur oksida pada suhu tinggi juga dapat berfungsi untuk memberantas hama udang liar (Mustafa 1991). Pemberantasan hama ikan dapat dilakukan dengan menggunakan saponin, dimana keampuhannya sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu dan salinitas air tambak. Pada salinitas rendah yaitu salinitas <20 ppm sebaiknya diaplikasi pada dosis 20-30kg/ha dan dilakukan pada siang hari, dan apabila salinitas >30 ppm, saponin diaplikasikan dengan dosis 10-15 kg/ha.
4. Pemupukan

Pemupukan dilakukan sesudah pemberantasan hama, dan pada kondisi sekarang ini pemupukan dilakukan pada semua tingkat teknologi. Jenis dan dosis pupuk ditentukan oleh tingkat kesuburan dari masing- masing tanah dasar tambak. Kesuburan suatu perairan tergantung pada produktivitas tanaman berklorofil, dan ini merupakan interaksi dari berbagai faktor diantaranya tersedianya zat hara dalam perairan (andarias 1991). Kesuburan perairan juga ditandai dengan kelimpahan dan jenis nabati air baik berupa fitoplankton maupun yang berupa fitobentos, dimana kedua kelompok ini merupakan primer utama dalam budidaya udang dan ikan ditambak.

Pemupukan tambak dimaksudkan unutk merangsang pertumbuhan makanan alami yang diperlukan oleh udang dan ikan selama pemeliharaan.
Didalam pemupukan tambak sebaiknya dalam satu kali masa panen dilakukan dua kali pemupukan, yaitu :
  • Pemupukan Dasar
Pada pemupukan dasar yang ditumbuhkan terutama adalah klekap (lumut dasar). Jenis dan dosis pupuk yang diperlukan dalam setiap hektar adalah : pupuk kandang dicampur dengan dedak halus dengan dosis 1-2 ton/ha, kemudian disebar merata ke dasar tambak. Selanjutnya campuran pupuk urea 100-150 kg/ha dan SP36 sebanyak 50-75 kg/ha, juga disebar merata keseluruh permukaan tambak. Masukkan air kedalam tambak sampai mencapai ketinggian 10-20 cm dengan menggunakan saringan dan biarkan menguap selama 2 minggu. Bila keadaan air dipermukaan telah menjadi jernih sedang dasar tambak telah tampak hijau ditumbuhi klekap, maka air didalam tambak ditambah secara bertahap sampai mencapai kedalaman 60-100 cm. Jika keadaan air sudah cukup stabil, maka petakan siap untuk ditebari.
  • Pemupukan Susulan
Jika diperkirakan makanan alami ditambak hamper habis (masa pemeliharaan + 1 bulan), maka perlu dilakukan pemupukan susulan dengan menggunakan pupuk urea dan SP36 dengan dosis urea 10-15 kg/ha dan SP36 5-10 kg/ha.

Pada pemupukan susulan ini yang ditumbuhkan adalah plankton, dan dilakukan setiap 10-14 hari sekali. Pupuk susulan ditebarkan pada pelataran tambak. Pemupukan tidak dianjurkan pada tambak-tambak yang mempunyai tanah dasar bersifat masam )pH < 6). Dapat juga dilakukan pemupukan apabila sudah dilakukan proses pengapuran (penebaran kapur tohor) atau menggantungkan batu kapur dimuka pintu-pintu air.

5. Persiapan Air untuk Penebaran
Air dimasukkan kedalam petakan tendon yang telah diendapkan selama + 4 hari. Persiapan tendon dilakukan sama dengan persiapan petak pembesaran, hanya tidak dilakukan pemupukan. Apabila tambak tidak memakai petakan tendon, maka tambak sebaiknya diberi kaporit 5 ppm sebelum ditebari udang dan tidak boleh ganti air sampai 1,5 bulan. Air yang telh ditampung dikapuri secara rutin dn dialirkn ke petak pembesaran dengan pergantian air dipetak pembesaran sebnyak 20-30 % pertiga hari.

6. Penebaran Tokolan
Tokolan PL 57-60 ditebar dipetak pembesaran dengan kepadatan disesuaikan dengan luas lahan. Dibandingkan dengan Pl 11-17 , tokolan udang lebih toleran terhadap fluktuasi salinitas yang lebar sehingga membutuhkan wktu yang singkat dalam proses aklimatisasi (gambar 3). Penebaran sebiknya dilakukan pada waktu suhu udara dingin, yaitu pada jam 06.00 – 08.00 pagi atau jam 17.00 sore-22.00 malam. Hindari penebaran benur yang terkumpul disatu tempat. Benur ditebar setelah air tidak berbau kaporit dan air sudah berwarna coklat muda. Padat tebar 5 ekor/m2 atau 50.000 ekor/ha. Berikan gilingan ikan segar/cumi-cumi 5 kg/ha dipinggirtambak atau disekitar benur ditebar. Jangan diberikan daging, udang/rebon atau rajungan, dan juda berikan 1 kg pellet halus/ha/hari selama 3 hari berturut-turut, dengan cara ini kehidupan udang biasa mencapai > 70 %.
Dalam penebaran benih pada budidaya campuran (udang dan banding) tidak boleh dilakukan secara bersamaa, tetapi tebarkanlah terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan udng beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Penebaran banding dilakukan setelah udang berada dalam tambak lebih kurang dua atau tiga minggu.

7. Pemeliharaan
Keberhasilan usaha budidaya tambak tidak hanya ditentukan oleh konstruksi tambak, desai dan tata letak tambak, pengolahan tanah dan pengadan benih saja, tetapi juga ditentukan oleh proses pemeliharaan sejk penebaran smpi pemungutan hasil (panen). Kegiatan –kegiatan yang diperlu dilaksanakan selm periode pemelihran berlangsung adalah :
  • Pemberian Makanan Tambahan
Meskipun makanan alami yang berupa plankton, klekap dan lumut tersedia cukup, namun dalam usaha budidaya ini masih membutuhkan makanan tambahan berupa pellet atau dedak halus terutama pada petak pembesaran. Pemberian makanan tambahan ini diberikan setelah satu bulan sesudah penebaran sampai menjelang panen. Makanan tambahan yang diberikan mengandung protein 30 % dengan dosis pemberian, yaitu pada teknologi intensif (15-20 ekor/m2) dan semi intensif (6-14 ekor/m2) diberikan pakan dengan dosis 3-5 %/BB/hari. Budidaya udang tradisional dengan kepadatan 1-2 ekor/m2 memerlukan pertumbuhan pakan alami yang baik, tanpa pemberian pakan komersil, namun pada budidaya udang tradisional plus (3-5 ekor/m2) disamping pakan alami juga memerlukn pakan komersil pada pemelihraan 2 bulan terakhir. Pemberian makanan tamabahan ini menggunakan anco (gambar 4), caranya meletakkan makanan sesuai dosis dalam beberapa anco, kemudian tempatkan anco tersebut pada beberpa tempat secara merata sehingga makanan dapat dimanfatkan oleh udang dan banding. Pemberian dengan cara ini selalu menghemat makanan tambahan juga sebagai wadah pengamatan.
  • Pengelolaan Air Tambak
Pemberian makanan tambahan dalam jumlah yang cukup banyak, kemungkinan akan meninggalkan sisa-sisa yang apabila membusuk akan berpengaruh terhadap kualitas air. Oleh karena itu pergantian air dengan frekuensi yang lebih banyak mutlak diperlukan (gambar 5). Pergantian air ditambak dilakukan secara rutin, yaitu setiap 2 minggu sekali sebanyak 25 %. Setelah pergantian air maka langsung diberi kapurkaptan sebanyak 50-100 kg/ha, dan  pupuk kalau perlu yaitu maksimum urea 35 kg/ha dan SP36 10 kg/ha, dengan kecerahan air tetap terjaga  yaitu 25-40 cm.
Apabila kondisi air tambak banyak kotoran/buih atau air jernih tidak ada plankton, maka air tambak wajib diganti. Dan apabila udang lumutan/air tambak menyala, maka segera diganti air tambak atau taburi kaporit 1,2 ppm (12 kg/ha/1m atau 7,2 kg/ha/60 cm kedalaman  air tambak. Serta pada sat hujan lebat, sebaiknya pematang tambak ditaburi kapur 100 kg/ha, pada malam hari diberi kincir/mesin perahu (2 buah/ha) agar air tidak berlapis dan udang tidak mengambang.
LANGKAH-LANGKAH PERSIAPAN DASAR TAMBAK
http://masrozak.files.wordpress.com/2011/05/2254351_fototambakok4.jpg?w=212&h=300
Faktor penentu panen udang adalah keadaan tanah dasar tambak dan kualitas air tambak. Tanah dan air akan baik bila dasar tambak dipersiapkan dengan baik pula.
Masalah yang timbul dalam budidaya udang memang tidak sedikit. Kerugian yang cukup besar di antaranya karena munculnya penyakit udang. Menurut hasil penelitian puslitbang perikanan, timbulnya penyakit udang disebabkan menurunnya kondisi lingkungan, akibat pengelolaan yang kurang baik. Kunci keberhasilan budidaya udang secara intesif adalah melakukan persiapan dasar tambak dengan baik.
Menurut Ir. Youke F Mumu, seorang ahli perikanan yang banyak memberikan konsultasi kepada petambak udang tentang manajemen budidaya udang berwawasan lingkungan, hal-hal yang sebaiknya dilakukan dalam mempersiapkan dasar tambak adalah sebagai berikut.

  1. 1.      Pengeringan
Setelah udang dipanen semua air dalam tambak dikeluarkan, lalu dikeringkan/dijemur selama satu minggu. Bila sudah kelihatan tanda-tanda tanah dasar tambak mulai retak-retak, maka endapan lumpur hitam (black mud) dikupas dan dibuang. Sekaligus dikerjakan reklamasi tambak, seperti perbaikan konstruksi tambak, pematang, pintu air, dan sebagainya.
Dasar tambak kembali dijemur 2 atau 3 hari. Lalu dibajak untuk membongkar tanah dasar tambak agar udara masuk ke tanah dan terjadi proses oksidasi. Sisa-sisa akar yang ada dibuang untuk menghindari terjadinya pembusukan yang mengeluarkan gas-gas beracun dan berbahaya bagi udang. Setelah dibajak tanah dibiarkan beberapa hari agar bakteri anaerob yang sifatnya pathogen dan bibit penyakit mati, serta gas-gas beracun menguap.

  1. 2.      Pengapuran
Tujuan pengapuran adalah menaikkan pH tanah dasar tambak, menjadi 6,5 – 7 (pH normal). Sebab, bila pH-nya di bawah normal, kurang baik untuk kehidupan dan pertumbuhan udang. Kapur ditabur ke permukaan tanah dasar tambak, lalu dibajak agar tercampur dengan tanah. Pengapuran ini lebih baik dilakukan dua kali. Dosis kaplur yang digunakan sesuai tingat keasaman tanah. Pertama, dengan menggunakan setengah dosis kapur yang direncanakan. Setelah dicampur dan dibiarkan beberapa hari, barulah setengah dosis sisanya ditabur. Lalu dibajak lagi dan dibiarkan beberapa hari lagi. Selanjutnya, dilakukan tes pH. Kalau pH sudah sesuai, masukkan air kira-kira sedalam 30 cm dan biarkan semalam. Tujuan perendaman ini adalah agar sisa-sisa reaksi pada dasar tambak larut dalam air. Kemudian air dibuang, dan dasar tambak diratakan.


  1. 3.      Diberi pupuk OST
Dalam keadaan basah atau ada air sedikit (maksimum 1 cm) pupuk OST ditabur secara merata. Pupuk OST langsung menyatu dengan tanah sehingga tidak kelihatan lagi perbedaannya. Biarkan selama satu minggu, dan dasar tambak dijaga tetap lembab.
Tujuan penggunaan pupuk OST ini adalah untuk memperbaiki struktur tanah di permukaan dasar tambak, sehingga tanah menjadi suatu koloid yang lebih stabil. Di dalam aktivitasnya, pupuk OST akan menciptakan keseimbangan unsur hara (mineral balance). Bakteri-bakteri yang terkandung di dalam OST akan menguraikan sisa-sisa bahan organic mentah yang masih tertinggal di dasar tambak, dan sementara itu fuaga akan berlangsung proses mineralisasi. Selama satu minggu diharapkan tanah dasar tambak menjadi mantap sehingga makanan alami berupa plankton yang disukai udang mulai tumbuh.

  1. 4.      Air dimasukkan
Setelah satu minggu diberi pupuk OST, air dimasukkan, langsung dengan kedalaman minimal 60 cm. setelah pemberian OST ini air jangan dibuang dan dilakukan pembasmian ikan-ikan liar dengan saponin. Beberapa hari kemudian plankton akan muncul. Bila cuaca baik, dalam waktu 5 hari plankton akan naik, air sudah stabil untuk beberapa minggu.
Salah satu factor yang perlu diperhatikan, setelah air masuk dan plankton sudah jadi adalah kecerahan air yang diukur dengan seicchi disk. Maka pada kecerahan 30 – 40 benur boleh dimasukkan. Kecerahan air lebih atau kurang dari 30 – 40 kurang baik untuk pertumbuhan benur.
Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk mendorong pertumbuhan makanan alami, yaitu: kelekap, lumut, plankton, dan bentos. Cara pemupukan:
  1. Untuk pertumbuhan kelekap
    • Tanah yang sudah rata dan dikeringkan ditaburi dengan dedak kasar sebanyak 500 kg/ha.
    • Kemudian ditaburi pupuk kandang (kotoran ayam, kerbau, kuda, dll), atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
    • Tambak diairi sampai 5-10 cm, dibiarkan tergenang dan menguap sampai kering.
    • Setelah itu tambak diairi lagi sampai 5-10 cm, dan ditaburi pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 1000 kg/ha.
    • Pada saat itu ditambahkan pula pupuk anorganik, yaitu urea 75 kg/ha dan TSP (Triple Super Phosphate) 75 kg/ha.
    • Sesudah 5 hari kemudian, kelekap mulai tumbuh. Air dapat ditinggikan lagi secara berangsur-angsur, hingga dalamnya 40 cm di atas pelataran. Dan benih udang dapat dilepaskan.
    • Selama pemeliharaan, diadakan pemupukan susulan sebanyak 1-2 kali sebulan dengan menggunakan urea 10-25 kg/ha dan TSP 5-15 kg/ha.
  2. Untuk pertumbuhan lumut
    • Tanah yang telah dikeringkan, diisi air untuk melembabkannya, kemudian ditanami bibit lumut yang ditancapkan ke dalam lumpur.
    • Air dimasukkan hingga setinggi 20 cm, kemudian dipupuk dengan urea 14 kg/ha dan TSP 8 kg/ha.
    • Air ditinggikan sampai 40 cm setelah satu minggu.
    • Mulai minggu kedua, setiap seminggu dipupuk lagi dengan urea dan TSP, masing-masing 10 takaran sebelumnya.
    • Lumut yang kurang pupuk akan berwarna kekuningan, sedangkan yang dipupuk akan berwarna hijau rumput yang segar. Lumut yang terlalu lebat akan berbahaya bagi udang, oleh karena itu lumut hanya digunakan untuk pemeliharaan udang yang dicampur dengan ikan yang lain.
  3. Untuk pertumbuhan Diatomae
    • Jumlah pupuk nitrogen (N) dan pupuk fosfor (P) menghendaki perbandingan sekitar 30:1. Apabila perbandingannya mendekati 1:1, yang tumbuh adalah Dinoflagellata.
    • Sebagai sumber N, pupuk yang mengandung nitrat lebih baik daripada pupuk yang mengandung amonium, karena dapat terlarut lebih lama dalam air.
    • Contoh pupuk:
      • Urea-CO(NH2)2: prosentase N=46,6.
      • Amonium sulfat-ZA-(NH4)2SO4: prosentase N=21.
      • Amonium chlorida-NH4Cl: prosentase N=25
      • Amonium nitrat-NH4NO3: prosentase N=37
      • Kalsium nitrat-Ca(NO3)2: prosentase N=17
      • Double superphosphate-Ca(H2PO4): prosentase P=26
      • Triple superphosphate-P2O5: prosentase P=39
    • Pemupukan diulangi sebanyak beberapa kali, sedikit demi sedikit setiap 7-10 hari sekali.
    • Pemupukan pertama, digunakan 0,95 ppm N dan 0,11 ppm P. Apabila luas tambak 1 ha dan tinggi air rata-rata 60 cm, membutuhkan 75-150 kg pupuk urea dan 25-50 kg TSP.
    • Pertumbuhan plankton diamati dengan secci disc. Pertumbuhan cukup bila pada kedalaman 30 cm, secci disc sudah kelihatan.
    • Takaran pupuk dikurangi bila secci disc tidak terlihat pada kedalaman 25 cm. Sedangkan apabila secci disc tidak kelihatan pada kedalaman 35 cm, maka takaran pupuk perlu ditambah.
Konstruksi tambak udang windu diupayakan mampu menahan air, mampu membuang air limbah, mampu memelihara kualitas air, dan tambak dapat dikeringkan dengan mudah dan sempurna. Tanah dasar tambak harus dalam kondisi yang sesuai untuk kehidupan
dan pertumbuhan udang. Hal ini karena sebagian besar waktu hidup dan mencari makan udang berada di tanah dasar tambak. Untuk mengupayakan hal tersebut persiapan lahan untuk menebar udang windu meliputi kegiatan:
- Pengeringan Lahan, bertujuan agar gas-gas sisa metabolit dapat menguap.
- Pembalikan tanah pada Tambak, ini dilakukan untuk menyempurnakan proses oksidasi pada tanah.
- Pengapuran dilakukan bila PH tanah kurang dari 6.0
- Pemupukan dengan pupuk organik, untuk menjamin ketersediaan pakan alami bagi udang windu.

Nama-nama ikan

A.JENIS-JENIS IKAN LAUT
TARPON
NAMA LAIN: Silver King, Sabalo
JENIS: Megalops Atlanticus


GABUS LAUT
NAMA LAIN: Cobia, Ling, Crab Eater, Lemonfish, Bacalao
JENIS: Rachycentron Canadum


LEMADANG
NAMA LAIN: Dolphin, Dorado, Mahi-mahi
JENIS: Coryphaena Hippurus


BARRACUDA (Alu-alu)
NAMA LAIN: Great Barracuda, Cuda, Sea Pike, Picuda
JENIS: Sphyraena Barracuda


IKAN DAUN
NAMA LAIN: Tripletail, Drift Fish, Leaf Fish
JENIS: Lobotes Surinamensis


BLUEFISH
NAMA LAIN: Blue, Chopper, Anchoa
JENIS: Pomatomus Saltatrix


BANDENG CECURUT
NAMA LAIN: Bonefish, Silver Ghost, White Fox, Macabi
JENIS: Albula Vulpes

KAKAP CUBERA
NAMA LAIN: Cubera Snapper, Cuban Snapper, Cuban Dog, Snapper
JENIS: Lutjanus Cyanopterus
UKURAN: Rata-rata 15-25 kg, dapat mencapai 50 kg lebih

KAKAP MERAH
NAMA LAIN: Red Snapper, North American, Genuine Red, Pargo Colorado
JENIS: Lutjanus Campechanus

KAKAP DOMBA
NAMA LAIN: Mutton Snapper, Muttonfish, Reef King, Pargo
JENIS: Lutjanus Analis


KAKAP ANJING
NAMA LAIN: Dog Snapper, Yellow Snapper, Jocu
JENIS: Lutjanus Jocu

KAKAP BATU
NAMA LAIN: Gray Snapper, Mangrove Snapper, Black Snapper, Mango, Caballerote
JENIS: Lutjanus Griseus


KAKAP SUTERA
NAMA LAIN: Silk Snapper, Yelloweye
JENIS: Lutjanus Vivanus

JENAHA
NAMA LAIN: Lane Snapper,Spot Snapper,Cady Snapper,Biajaiba
JENIS: Lutjanus Synagris
untuk dipancing namun bukanlah petarung yang istimewa, apalagi jika dilihat ukurannya yang kecil.

KAKAP RATU
NAMA LAIN: Queen Snapper
JENIS: Etelis Oculatus

KAKAP SIRIP HITAM
NAMA LAIN: Black Snapper, Blackspot, Bahamas Red Snapper
JENIS: Lutjanus Buccanella


EKOR KUNING (Wakung Sawo)
NAMA LAIN: Yellowtail Snapper, Flag, Tail, Rabirubia
JENIS: Ocyurus Chrysurus
KAKAP VERMILLION
NAMA LAIN: Vermillion Snapper, Beeliner, Mingo, Cajon
JENIS: Rhomboplites Aurorubens

SCHOOL MASTER
NAMA LAIN: Barred Snapper, Caji
JENIS: Lutjanus Apodus

TANDA-TANDA
NAMA LAIN: Mahogany Snapper, Ojonco


MASIDUNG / KUWE GERONG
NAMA LAIN: Giant Trevally, White Ulua (Hawaii)
JENIS: Caranx Ignobilis


KUWE BATU BESAR
NAMA LAIN: Greater Amberjack, Amberfish, AJ, Coronado, Cavilia
JENIS: Seriola Dumerili

KUWE BATU
NAMA LAIN: Almaco Jack, Almaco
JENIS: Seriola Rivoliana

KUWE LILIN
NAMA LAIN: Crevalle Jack, Jack Crevalle, Crevally
JENIS: Caranx Hippos

PERMIT
NAMA LAIN: Round Pompano, Great Pompano
JENIS: Trachinotus Falcatus

KUWE RAMBUT / KUWE RAMBE
NAMA LAIN: African Pompano, Threadfish, Cuban Jack, Flechudo
JENIS: Alectis Ciliaris

SUNGLIR / SALEM
NAMA LAIN: Rainbow Runner, Spanish Jack, Rainbow Jack
JENIS: Elagatis Bipinnulata

KUWE MATA BESAR
NAMA LAIN: Horse-eye Jack, Bigeye Jack, Ojo Gordo
JENIS: Caranx Latus


KUWE KUNING
NAMA LAIN: Yellow Jack, Bar Jack, Cibi Amarillo
JENIS: Caranx Bartholomaei

TENGKEK
NAMA LAIN: Blue Runner, Hardtail Jack, Runner, Blue Jack
JENIS: Caranx Crysos

KUWE FLORIDA
NAMA LAIN: Florida Pompano, Pompano, Carolina Pompano
JENIS: Trachinotus Carolinus

BAR JACK
NAMA LAIN: Skipjack, Bahamas Runner, Reef Runner, Cibi Mancho
JENIS: Caranx Ruber

LOOKDOWN
NAMA LAIN: Jorobado, Horse-head
JENIS: Selene Vomer

TENGGIRI LAKI (Wahoo)
NAMA LAIN: Wahoo, Peto, Ono
JENIS: Acanthocybium Soladri


TENGGIRI
NAMA LAIN: Narrow-barred Mackerel, Spaniards, Tanguigue
JENIS: Scomberomorus Commersoni


MACKEREL RAJA
NAMA LAIN: King Mackerel, Kingfish, Sierra, Cavalla
JENIS: Scomberomorus Cavalla


MACKEREL CERO
NAMA LAIN: Cero Mackerel, Painted, Mackerel, Pintada
JENIS: Scomberomorus Regalis


MACKEREL SPANYOL
NAMA LAIN: Spanish Mackerel, Sierra
JENIS: Scomberomorus Maculatus


TUNA SIRIP BIRU
NAMA LAIN: Bluefin Tuna, Giant Tuna, Horse Mackerel
JENIS: Thunnus Thynnus


TUNA SIRIP KUNING
NAMA LAIN: Yellowfin Tuna, Allison Tuna, Ahi
JENIS: Thunnus Albacres


TUNA MATA BESAR
NAMA LAIN: Bigeye Tuna
JENIS: Thunnus Obesus


TUNA GIGI ANJING
NAMA LAIN: Dogtooth Tuna, Scaleless Tuna, Peg tooth Tuna
JENIS: Gymnosarda Unicolor


TUNA SIRIP PANJANG
NAMA LAIN: Albacore, Longfin Tuna
JENIS: Thunnus Alalunga



TUNA SIRIP HITAM
NAMA LAIN: Blackfin Tuna, Bermuda Tuna, Football
JENIS: Thunnus Altanticus


TUNA SKIPJACK (Jenis Tongkol)
NAMA LAIN:Skipjack Tuna, Oceanic Bonito, Arctic Bonito, Striped Tuna, Watermelon
JENIS: Katsuwonus Pelamis


TUNA KECIL (Jenis Tongkol)
NAMA LAIN:Little Tunny, Blue Bonito, False Albacore, Little Tuna
JENIS: Euthynnus Alletteratus


BONITO ATLANTIC (Jenis Tongkol)
NAMA LAIN: Atlantic Bonito, Northern Bonito, Katonotel, Boston Mackerel
JENIS: Sarda Sarda


FRIGATE MACKEREL (Jenis Tongkol)
NAMA LAIN: Bonito, Tinker Mackerel
JENIS: Auxis thazard


b. Jenis-jenis ikan air tawar
Nama Indonesia
Nama Ilmiah
Nama Perdagangan

1.Arwana
Sclerophagus fanmousus
Bonilangua

2.Arengan
Murcillus zhysosphakadion
Black shark

3.Baung putih
Macrones nemurus
Catfish

4.Belut
Monopterus albus
Freshwater eel

5.Boja
Barbus barbus
Fivebanded bard

6.Barbus
Barbodes lateristrisa
T. barb

7.Bilis tembaga
Anchoviclla commersoni
Anchory

8.Cupang
Trichaptis vittatus
Talking gouramy

9.Cerutu strip putih
Anantomus anostomus
Stiped headstander

10.Cerutu strip hitam
Pooglobrycon unifasciatus
One lined pecilfish

11.Ciling ciling
Botia matracanta
Clown loach

12.Cupi
Labistes reticulates
Cuppy

13.Curami
Osphronemus geuramy
Ciant geuramy

14.Hampala, barau
Hampala macrolipidota
Carp

15.Lele dumbo
Clarias gariepinus
Catfish

16.
Lele putih/ biasa
Clarias batracus
Hite catfish
17.Lais timah
Cyptopterus apogon
Catfish

18.Lais junggang
Cyptopterus micronema
Catfish

19.Lempam
Puntius schwanefeldi
Carp

20.Labiusa
Colisa labiosa
Thick lipped gouramy

21.Langli
Botia hymomrophyra
Banded loach

22.Mola
Hypothalmchtys molitrik
Silver carp

23.
Mas
Cyprinus carpio
Common carp

24.
Cabus
Ophiochepalus striatus
Namel, snake head

25.
Mas koki cina
Carrasius auratus
Chinese aranda

26
Nilem/paweh
Osteocilus hasselti
Nilem

27
Patin
Pangasius pangasius
Cat fish

28.
Niasa
Pseudothropus auratus
Malawl auratus

29.
Neon tetra
Pharaceirdon innesi
Neon tetra

30.
Oscar
Astronotus ocellatus
Pelped cichild

31.
Mas koki
Carrasius auratus
Cold fish

32.
Mujair
Opheochromis musambicus
Tilapia mosambica

33.
Malong
Muarenesox cinareus
Silver conger

34.
Nila
Orheochromis niloticus
Nile tilapia

35.
Nomel
Harpodon nehereus
Bombay duck

36.
Pantau
Rasbora argirotaenia
Silver rasbora

37.
Puntung damar
Siliago siliama
Silver whiting

38.
Sepat siam
Trichogaster pectoralis
Shakeskin gouramy

39.
Sepat rawa
Trichogaster trichopterus
Two spot,three spot blue gouramy

40.
Sepat batik
Cidochaichthyes anoples
Chocolata gouramy

38.
Sepat
Trichogaster leeri
Pearl or musaic gouramy

39.
Sepat
Trichogaster microlepis
Moonlight gouramy

40.
Toman
Orheichepalus micropeltes
Marcel

41.
Tambakan
Helostoma temmintri
Kissing gouramy

42.
Tawes
Puntius javanicus
Tawes

43.
Sadaim
Macrones nigriceps
Catfish

44.
Sarpe
Malanotaema maculochi
Saverum

45.
Saverum
Cichlesoma severum
Sumatra barb

46.
Seren
Toxetes javolator
Acher fish

47.
Sepat batik
Cydochaicichthys aroplos
Chicelata gouramy

48.
Sumput
Barbodes everetti
Sampae tetra

49.
Sebarau
Hyphessorbycab serpao
Sampae tetra

50.
Resbora
Labeobarbus sorc
Carp
52.
Arengan
Monolius chysophekadion
Crup

53.
Akaim
Aecudens pulcher
Blue acana

54.
Ayam
Cantligaster uslentini
Balack saddleptop

55.
Bulu 2
Punitus bulu
Carp

56.
Batik
Sphaerinchthyes osphronunades
Chocolata gouramy

57.
Buntal tutul
Aratutron nigropunchtatus
Black

58.
Betta
Betta spendens
Laga

59.
Bartir
Puntius conhnus
Retibarb,resiban

60.
Badis2
Butwanicus hamilton
Burnes hadissilpes

61.
Dokkun
Barbodes lateritringa
T.barb

62.
Diskus
Symphysodon discus
Discus

63.
Danio malabari
Danio warabaricus
Giant danio

64.
Danio mutiara
Branchidanio albeliniatus
Peart danio

65.
Danio letrip
Branchidanio
Zebrdanio

66.
Ekor sikat
Beluntia stigmata
Tail pardise

67.
Etropos hijau
Etropis suratensis
Baned cromic

68.
Fasciata
Golisa fascata
Giant gouramy

69.
Gabus
Channa striatus
Snack head

70.
Gurami
Osphronemus gouramy
Gouramy

71.
Jelawat
Leptobarbus hoeveni
Carp

72.
Jambal siam/ptn kolam
Pangasius suchi
Catfish

73.
Keranda ng
Ophiocephalus pleropithalmus
Muriel

74.
Kaca
Chandra borvensis
Siames glass

75.
Kehung
Opgiocephalus monptherus
Mukiel

76.
Ketup
Thymnthyes polylepis
Carp

77.
Kelabu padi
Ostheicillus melunopterus
Carp

78.
Koan
Ctenopphaycyngodon idellus
Ciasa carp

79.
Kaiser
Nematobycon palmeri
Emperortetra

80.
Kongo salem
Phenocoarammus interuptus
Congo tetra

81.
Lindi
Clarias nisuwhofi
Catfish

82.
Lele duri
Clarias metanoderma
Catfish

83.
Lele labirin
Belendontichthyes dinema
Cat fish

84.
Lelawak
Puntius lawak
Carp

85.
Lumo
Thunnchthyes fhynnoides
Carp

86.
Layla
Gelisha laila
Owarf gouramy

87.
Moa kembung
Anguilla mouritama
Fresswater eel

88.
Matabar
Danio malabarius
Grant danio

89.
Mata buta
Anaptichthyes siqrdani
Blind corecroenim

90.
Mulut api
Chihlasoma maelii
Fira mouth carp

91.
Nilem/paweh
Osteocilus hasselti
Nilem

92.
Patin
Pangasius2
Catfish

93.
Payang
Decapterusruseklli
Mackerel scott

94.
Kerapu biru
Epinophilus flavoucoenules
Lowder blue

96.
Kerong2
Therapon therap
Lunded grunt

97.
Krot2
Pamadasys hasta
Silver grund

98.
Kutisii
Nemipterus nemotophorus
Theadfin bruad

99.
Layang
Detapterus pusailus
Malayan half

100.
Layaran
Istiophorus oriantalis
Sail fish

101.
Talii
Demogenesais pusailus
Malayan half

102.
Ekor pedang
Xiphophorus halleri
Sword fish

103.
Jambal
Pangasius2
Catfish

104.
Kanera
Labeobarbus dedronensis
Carp

105.
Manuis
Pbrobhylum scalare
Angelfish scalare

106.
Paradis
Xiphophorus mculatus
Paradise fish

107.
Pelata
Chilosellium indicum
Yellow tail seod

108.
Pitulu
Apistograma ramtrazi
Ramirezi

109
Plati koral
Xhyphoporus helleri
Sward tail

110.
Plati pedang
Xiphoporus variatus
Sunset platy

111.
Rainbow irian
Balamiochelus melapnoterus
Bala shark

112.
Romirasi
Malonotaema machulachi
Rainbow fish

113.
Sapu2
Coohlidorn glecostoinoides
Spoontoothed

114.
Sadorm
Eacrones oigriceps
Catfish

115.
Srigunting
Rasbora eisthaveni
Biliant rasbora

116.
Sumatra
Capeotra tetrason
Thre linea

117.
Sulia batang
Rasbora trilinsata
Palty rasbora

118.
Tempeh
Pristolenis pasciatus
Freshwater perch

119.
Tetra bolangkitam
Cymnocobymbus henetzi
Black tetra

120.
Unogul
Opiocephalus branninensis
Snake fish

121.
Plati variatus
Epalzeorhynchus olepterus
Playing fark
c.ikan air payau

Bandeng (Chanos chanos Forsskål) adalah ikan pangan populer di Asia Tenggara. Ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam familia Chanidae (bersama enam genus tambahan dilaporkan pernah ada namun sudah punah) [1]. Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal sebagai ikan bolu, dan dalam bahasa Inggris milkfish)


TUGAS INDIVIDU

NAMA-NAMA IKAN
AIR LAUT AIR, TAWAR, DAN AIR PAYAO



OLEH :
Gusriandi
105940048110
II. B / BDP


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Simbol bulan sabit dan bintang

 Simbol bulan sabit dan bintang memiliki perjalanan sejarah yang panjang sebelum menjadi identik dengan dunia Islam. Berikut adalah cerita m...